Minggu, 12 Juli 2015

Lembar Sajadah Usang

biarkan aku
membuhul garis garis bibir
agar tak bergetar
sebut namamu
yang tengah menyulam jarak
makin jauh
entah dimana kau letakkan rindu
makin samar


malam
rengkuh jiwa jiwa merindu
yang tergetar
kala lafadz mengalun
sayup
lirih
sendu mendayu

dan aku tersungkur
di lembar sajadah usang
basah oleh derai

=====&&&&&&&=====

Senja dan Tilawah

senja
beranda
alun tilawah
dan hati yang terbelah

sisi kiri
sibuk membilang timbunan noda
gunungan dosa
dan khilaf tak terkira
kelepak kanan

basah oleh air mata
menderas
saat tersadar amalan yang kita punya
tak setimbang

masih adakah waktu tuk kita
perbanyak istighfar
menghapus dosa dosa


======%%%%%%%======

Narasi Tanpa Jeda

tangis langit ini bak ribuan jarum
merobek hamparan bumi
basah, sisa gerimis semalam
sempurna sembunyikan senyum
matahari sepagian


garis wajah
kugambar di bentang canvass
usang
sepi masih saja
menyertai
sepertinya,


tangisku tak sebasah gerimis
meski serpih serpih
kisah usang
diburaikan angin
meniti larik-larik jejak
makin samar

pada sebuah pokok kayu
kesanalah kita menuju
memahat narasi tanpa jeda
tentang romansa
tentang kelepak hati
dan tentang kita, tentu saja


======&&&&&&&======

Rabu, 27 Mei 2015

Karena Rindu Punya Muara

harus bicara apa
musti tuliskan aksara mana
bila segala rasa
hanya punya satu muara

 rindu tlah menjelma serenada
penina bobo lelapkan jiwa

biarkan malam menyongsong dini
berbalut sulur halimun
berbagi kisah usang
tentang biru romansa

rengkuh aku di kedalaman bahtera
penuh canda

biarkan saja
malam menggenggam kabut
tampias hujan menyempurnakannya

masih ada sisa suam
yang mengintip di sebalik bayang-bayang
rindu

meninggalkan senja yang bisu
tanpa sepotong pun pesan pendekmu
dan rindu berkelebat
dari temaram ke gelap malam

dan hujan tiba-tiba
membasahi dedaun rimbun yang kuning
menyongsong kemarau

butuh hati
bahkan melebihi luas samudera
tuk memahami dan mengerti
jiwamu, tersembunyi
dalam raut wajah tenang bak telaga
tanpa ombak, riak

terlambat
kau tawarkan rengkuh
pagi tlah terlanjur hangat
oleh sulur keemasan
matahari

beri aku waktu
tuk hempaskan rindu dendam ini
menjadikannya puing
hingga tak lagi tersisa
tanya tanpa jawab
di relung hati

lalu kemana
kuantarkan gulungan rindu
bila hanya ada angka

tanpa jalan atau alamat

lalu kemana
biduk ini kan menuju
rindu yang menumpuk terlanjur tumpah
ruah di bebatuan

air tak mengalir hingga jauh



=====%%%%%=====

Jumat, 24 April 2015

Kebun Hati

tilam yang kau sodorkan
pengganti lengan
temaniku merajut helai-helai asa
berbantal renjana

mari memanen rindu
yang beranak pinak
di kebun hati

karena yang dinanti
kadang abai pada waktu
atau juga jarak
yang berjajar bak selubung

'tapi aku rindu, nda'
sedumu dalam secarik pesan

dan aku kehilangan kata


===ooooOOOoooo===

Telat

terlambat
rindu yang kau bawa
terlupa kau kata
hingga aku terlanjur melangkah

duuh, andai diri
mampu membelah suka-suka
tentu kan kutemui rindumu
menghiburnya senyampang bisa

simpan lagi
sampai nanti
waktu berbaik hati
memberi kita
masa untuk bersua

'nda,
meski jauhmu sepelemparan batu
namun waktu tak ijinkanku
memelukmu'
tulismu pilu


===ooooOOOoooo===

Luru Ati Liya

grimis nggrejih iki
kadya tangising sepi
kang semimpen
rapet ing telenging ati

wewayanganmu
nglegena, anglelena
ambethot rasa kapang
kang ora tapis kasuntak
nalika jejagongan

wektu kang lumayu
ninggal aku tanpa swara
luru ati liya
kang kebah sih tresna

sliramu wis tega
jumangkah
lali marang tembang asmaradana
kang mbok tinggal nalika semana
dadi pangayem-ayem

===ooooOOOoooo===

Semplah

aku lintang kang kelangan wengi
tanpa abyor, tanpa cahya
nalika sliramu jumangkah
ngadoh
nggembol ati semplah

'janur kang mlengkung dadi seksi, nda'
sambatmu

kita kadya garis putih
sapinggiring dalan
menggok ngiwa apa nengen
sowang sowang

====oooOOOOooo====

Sonata Masa Lalu

kembali mengalun
sonata kenangan
seakan layar di depan mata
tersibak tiba-tiba

satu satu
tergambar seolah nyata
lembar demi lembar
narasi masa lalu

kenapa bilah bilah harapan
yang kukumpul tiap petang
tak segra genap kujumlahkan

agar bisa kubangun
bilik berdinding anyaman
teduh di rimbunnya
kasih sayang

rindu selalu lari
tinggalkan celah kosong yang tak terisi
entah sampai kapan

gurat gurat di dinding tlah memanjang
hampir tak mampu kubilang

===ooooOOOoooo===

Rabu, 25 Maret 2015

Selamat Jalan

kali ini
lambai jemari tak lagi
sisipkan pernak pernik sepi
sast kau mengayun langkah
segra
menjauh dari keteraturan

malam tak sisakan energi
tuk mencerna caci maki
segala serapah sumpah
gelegar angkara yang ruah
pedihnya berserakan
dari waktu ke waktu
tanpa jeda

pergilah
jauhnya jarak kan sempurna
mengobat luka
pembebat hati yang patah

dan aku akan tetap di sini
berdiri
menunggu ulur jemari
menyambutmu
kepulanganmu
seikat bunga warna lembayung
tuk pelipur lara

Simponi Lalu

ketika serpihan
cerita cerita lama
berpendaran lewati celah
yang terlupa kututupkan

ada rindu
berteman gulana
potongan potongan luka
bersenyawa dengan nestapa
cinta, aahh ..... mungkin terikut jua
sementara sayang dan kasih
mengekor suka suka

perbincangan semalam kita
mengisyaratkan rasa

tak pernah lelah mengurai nostalgi
simponi tentang masa lalu

#noe
#simponi_lalu

Kamis, 05 Maret 2015

Sebuah Penantian: Menjelang Hari Kelahiran

satu satu
bongkah demi bongkah
kau susun serupa benteng
melingkar
berkelok
ikuti geliat kaki
melangkah menembus pekat
dinding itu pun terhubung sudah
hujan
rintik dan derasnya
segra genangi cembung
yang kau bangun dengan derai
kadang tangis kadang keringat
sama halnya kidung telaga
membayang di bola matamu
ingin ku tenggelam
berenang-renang di kedalamannya
bertemankan pendar
cahya lilin
dan aku suka cita menghitungnya


=====oOo=====

Persimpangan Hati

tapak tapak langkah
gemulai pijakkan gurat
satu dua
tak terasa
debar yang entah
makin rajin bertalu
'nanti
masa itu kan datang, nda
usah risau
bangunlah harap yang pernah terserak
ia kan tiba
dengan bunga bunga sewarna pelangi
canda dan dekap nan erat
terulur'
tulismu

oooOOOooo

'nda,
keluhmu pun tak mampu lagi
kudengar lembut
karena tlah kusimpankan gemintang
yang kupetik saban malam
ingin segra
kutatap kejora di telaga netramu
saat kuulur seikat bouquet wangi
dalam pendarpendar lilin
warna warni
untukmu', tulismu
berteman sumringah
apalagi yang kurindu
jika sgala yang kuingin
terulur untukku?

=====%%%%%%%=====

Sabtu, 28 Februari 2015

Perempuan Terbuang

pada sebuah tiang sajak
kugantungkan temali
birama-birama tentang asa
yang terserak, berhumbalang

pada sebuah patok bait
kutalikan sulur-sulur aksara
berkiah tentang serunya angan
beterbangan, mengejar keping hati

namun hanya cerita tentang luka
sempat kusembunyikan
di gelapnya bayang-bayang
agar tak ada lagi nostalgi duka
menghuni bilik hati
sepi, sendiri berteman nestapa

di hitamnya dinding hati
aku sembunyi
menguntai serpih-serpih yang terserak

aku perempuan terbuang


=====%%%%%%%=====

Ini Aku, Perempuanmu

usah kau coba
membilang kerut merut
membayang di punggung tangan

usah sisihkan waktu
pandangi foto diri
dulu dan kini
hanya sesal tak pasti
di ujung decak

usah sempatkan masa
geraikan rambut-rambut penyimpan sendu
warnanya tak lagi sama
atau serupa jelaga

langkahku tak setegap serdadu
tapakku tak seteguh batuan karang
sorot mataku pun tak lagi
setajam elang

ini aku, perempuanmu
layu tergerus kisah meski tak indah
serapahmu retakkan jiwa
sumpahmu pecahkan cerana cinta
terlupa bila hati
tak seteguh pualam

ini aku, perempuanmu
ketika kapalmu butuh
tempat bersandar

=====%%%%%%%====

Selasa, 03 Februari 2015

Persimpangan Hati

selalu saja
kutemui persimpangan
tentang langkah langkah
tentang gores silang menyilang
dan tentang carut marut kisah
selalu saja
tersisa dua
sama berat
sama ringan
kebimbangan ditengahnya
selalu saja
ujung jari kiri di sana
jari kanan di sini
tak ada satu bongkah pun
tempat berpijak
mengantarainya

=====%%%%%%====

Rabu, 28 Januari 2015

Rindu Tak Lagi Menjadi Gita

kenapa harus kukejar senja
ia kan selalu pergi
sembunyikan sulur sulur jingga
di ketiak malam

kenapa harus kutangisi malam
ia akan selalu pergi 
sembunyikan gelap di sisi matahari
senyap ditelan surai keemasan

kenapa harus kusesali pagi
ia akan selalu pergi
berkelana menghitung jarak
hingga bertemu senja dan jingga

kenapa harus
entah
karena rindu tak lagi menjadi gita
alunan simphoni kabarkan renjana

hanya hampa
bilik bilik kosong tanpa jiwa
mengelana

=====%%%%%%%=====

Aku Meninggalkanmu [lagi]

biarkan bait bait cerita tentang kita
tersembunyi di kelepak dedaun hijau
basah oleh tangis
lembab oleh gerimis
sisakan dingin membalut raga
usah simpan bara
yang panaskan rasa hati
tinggalkan seleret luka
ada jeda serupai tirai
kau
aku
tak hendak bicara cemburu
usah hirau
kangen yang kau tuliskan tertinggal
di lintasan lintasan dingin
beku ditinggalkan derak derak
pengiring langkahku menjauh
sejatinya tak ada sesiapa
yang kau hujani rindu dan segala asmara
semua tersimpan sendiri
sunyi di kedalaman bilik hati
yang terluka
kutitipkan rindu menggebu
pada kelokan di sudut perempatan
karena waktu tak berpihak
pada rencana yang kita tuliskan
aku meninggalkanmu, lagi
tanpa sempat bertukar sapa
bertanya kabar suka-suka


=====%%%%%%%=====

Rabu, 21 Januari 2015

Januari: Tentang Senyum yang Terlupa

sungguh
senja ini merambat angkuh
bersama percik tampias
mengalir membawa dedaun luruh
jangan tanya kenapa gigil
sembunyikan suam
Januari berteman hujan senantiasa
entah, terlupa kutangkup senyum
yang sempat kau tawarkan
tadi pagi

====%%%%%%%%====

Senin, 12 Januari 2015

Menua Bersama Waktu

pada sebuah malam yang sembunyi di ketiak pagi
kutitipkan hitungan rindu untuk seraut wajah
wajah wajah lelah
wajah wajah pasrah
wajah wajah berbalut harapan

pada sebuah pagi yang gigil
kudekapkan romansa
agar membagi hangat ke sekujur raga
rapuh tergerus usia

menua bersama waktu


====%%%%%%%====

Sepertiga Malam

pada gelap ku kehilangan cahya
pada senyap ku kehilangan suara

pokok pinus membeku
perdu membisu, hilang kata kata
denting jarum jatuh
sekeras derap
para tentara samakan langkah

hanya lantunan
dihantar bisik
lafadz-Mu mengalun
menyusup kisi kisi
hati yang gersang

terlupa menyebut asma-Mu
di sepertiga malam

====%%%%%====

Minggu, 11 Januari 2015

Elegi Penantian

putikputik perdu
bersulam embun
menunggu esok
memanen sulur
senyum mentari

di sudut dangau
kupeluk kerling mesra
rembulan
bercanda di gumpalan
arakarak mendung

kupintal baitbait masa
yang melangkah, lambat
menjengukku

====%%%%%====

Risau

ketika kau menjelma menjadi 'asing'
tak kukenali lagi lafadz yang kau deraskan
entah aku
atau kau
yang tersesat di persimpangan

ujung jalan itu
bercabang, dua kiri kanan

kau teteskan lagi cuka
di serpih luka
yang kembali koyak

tanpa rasa
empati simpati atau jatuh iba
begitu saja

lelehannya menganak sungai

sedang malam
sembunyikan seleret jingga
membenamnya
dalam peluk
kegelapan

seperti kerlip rindu
yang kau genggam
seirama
tarian kunangkunang

=====%%%%%=====

Senyum Rembulan

rembulan malu
bertirai kabut
samar, membayang senyum
berteman lingkar warna serupa cincin

namun bukan wajahmu
tak pula binar sorot teduhmu
hanya seleret cahya
bercerita tentang hati terbelah

rindu telah patah
serpihnya bertanggalan
seirama keluh yang luruh

'aku kehilanganmu' tulismu


=====%%%%%%%=====

Januari dan Selembar Kisah Tentangmu

gerimis sembunyi
di sebalik bayang-bayang
rintiknya jatuh
serupa jarum
tajam menusuk

gelap tak lagi tawarkan rahasia
tempat segala rindu
dendam dan sgala romansa
bersembunyi dari wasangka

januari ini tak beda
karena aku harus menghitung lagi
serpih serpih yang terserak

gurat wajah
dekik pipi
denting lagu di sebalik senyummu

dan rindu yang senantiasa menggantung
lelap di ujung resah

di sini
mentari temaniku menganyam waktu
menghapus jejak jejak basah
membiarkannya
berlari
mengejar senja temaram

esok masih ada
tapak tapak masa
tuk merenda kisah

tentangmu
tentangku
tentang kita
dan segala cerita tentang harapan

=====%%%%%%%=====



Nopember: Serpihan Kenangan

aaahh Nopember
saat payung payung terkembang
warna warni menahan tampias
pernahkah kau sengaja jenguk
wajah wajah yang berlindung
di baliknya

muram
tanpa cahya
ada juga mengulum senyum
lengan terulur memeluk beku

namun langkahmu tetap saja
menjauh
membilang jarak dan jeda
setia mengantarai
jemari kita
tuk saling bertaut

tak ada lagi masa
saling berbagi romansa
hingga entah

tangismu setia temaniku
menghitung rintik yang luruh
membasah di jalanan
tempat kita menebar serpihan
kenangan


=====%%%%%%%=====




[puisitigapuluhsatuhari] Tentang Kehilangan dan Rindu yang Menjelma Kenangan

tanggal satu
kugoreskan selarik tinta
hitam memanjang
awal penanda
jeda akan segera melebar
menuju penghujung tahun
tanggal dua
kita hias dengan untai kata
janji tuk bersua

matahari mengaminkannya, kurasa
ia membagi senyum
berbalut sulur sulur hangat
kilaukan titik embun
yang segra mengelana

tanggal tiga
mestikah kubendel lembar lembar rindu
saat jeda yang tercipta
hendak kau lekatkan
tanpa jurang menganga


tanggal empat
kembali kugoreskan
tinta sbagai penanda
kali ini putih kupilih
agar nampak seperti jeda

setitik harap
bak noktah pelengkap
renjana yang kita gambar
di selembar kanvas lapuk
tanggal lima
lembar lembar memori
makin terbingkai
dalam alunan romansa tanpa kata

seandainya asa ini
mampu membalutnya
agar dingin di ujung malam
tak melukainya

tanggal enam
kueja senyum pagi
berkalungkan mendung
basahi kayu penyangga kanvass usang
tempat kau goreskan cerita cerita

tentang hijau dedaun
bunga bunga me layu
dan rumput meranggas

sudah tanggal tujuh
jeda yang tercipta tak halangiku
selesaikan gambaran tentangmu

tentang seraut wajah
tentang lesung di pipi kiri
tentang dagu terbelah
dan tentang tipis bibir
tenang tetapi menghanyut rasa
tanggal delapan
kutambahkan leret warna
dalam baris putih hitam di dinding
agar tak terlewat
hari hari mengantarai

tanggal sembilan
sepertiga bulan hampir terraih
kita masih berkutat dengan rasa
kehilangan kerinduan dan segala entah

sementara waktu tak henti
jejakkan langkah berlari
dan tinggalkan kita di sini
terduduk menahan perih
di persimpangan
antara rindu dan dendam

tanggal sepuluh
genap pula sepuluh jari
sebanyak itu pula goresan putih hitam
temaniku menata hati

asa bukan satu-satunya
elegi tentang cita
dan juga romansa
diantara dua kelepak hati
yang hampir terkoyak
tanggal sebelas
sengaja kusemaikan jarak
tonggak tonggak terpancang
sepanjang sisi jalanan
yang kita susuri tadi malam

entah bilangan ke berapa
goresan putih hitam itu
tertapak di buram dinding
menggenapi hari hari kosong
warnai kepergianmu

tanggal duabelas
hujan semalam
hapuskan tapak jejak
yang sengaja kau tinggal
tanggal tigabelas
kubertanya: "lalu dengan apakah
kuisi potongan puzzle
yang terlarut
bersama hujan"
tanggal empatbelas
sepagi ini kau deraskan tangis
alangi isak yang coba kutepis
menghabiskannya bersama derai hujan
kaburkan sketsa tentang seraut wajah
di kanvass kanvass terbentang


tanggal limabelas
goresan warna tlah menjelma
menjadi larik larik penanda
hitam
putih
berderet berbaris

tlah jauh kita saling melangkah
kau ke sana
aku ke sini
menanti ujung labirin
menjadi pintu sua
kita
tanggal enambelas
tlah separuh waktu berlari tinggalkan jejak
langkah langkah tertatih
tapak tapak berbalut letih

tanggal tujuhbelas
mentari menua
teriknya kalahkan gundah
kening kening membasah
lukisan rindu tak usai
genapkan romansa
tanggal delapanbelas
penyangga kanvass
gelisah dalam tegak
tak jua kurampungkan gambar wajah
tentangmu
tanggal sembilanbelas
hujan membiru
larutkan warna warna sendu
berleleran di palet buram
menjadikannya bercak bercak
tanpa makna
tanggal duapuluh
kristal kristal rindu
kau sorongkan padaku
dalam bejana berhias senyum

'genap dua pertiga bulan
kau sorongkan padaku
dalam bejana berhias senyum

'genap dua pertiga bulan
kita saling melangkah,' tulismu
prasasti lukisan buram
tak saling bertaut
tanggal duapuluh satu
'sekarang atau nanti
atau mesti menunggu
lagi lagi dan lagi,' keluhmu

waktu tak leluasa memberi
ruang dan hawa sepenuh pinta
hanya bayang, buram tanpa arsir
garis garis yang perlahan pudar
tanggal duapuluh dua
sengaja tak kuberi jeda
gores putih hitam
memanjang sedepa

ujung labirin
tak nampak jua
tak kutahu engkau kemana
arah langkah terhalang kabut

tanggal duapuluh tiga
halimun membentang
percikkan rona rona pelangi
saat matahari membagi hangat

meski tirai langit
sesekali berteman rintik
tak halangi timbunan rindu
yang susah payah kukumpul
untukmu

tanggal duapuluh empat
haruskah kukabarkan pada rindu
bait bait renjanaku
merdu bertunas
nyanyikan serenade
tentang hari baru
tanggal duapuluh lima
simphoni beradu, mendayu
nyanyikan gita seirama orkestra
tabir harapan bawakan kisah
tapak jejakmu semakin nyata

tanggal duapuluh enam
tinggal sedikit hari
kita 'kan mengukir petak petak memori
yang rapat tersimpan

tanggal duapuluh tujuh
kanvass kanvass tlah penuh
bergambarkan kisah
berbaur gores gores memanjang
putih
hitam

tanggal duapuluh delapan
aku tlah lelah melangkah
lorong labirin tak janjikan cahaya

hanya isak
hanya sedu di ujung lidah
dan hanya hanya lain
tak terungkap

tanggal duapuluh sembilan
raga tlah tertatih
menuju letih
membawa badan menghela rintih
gerbang di ujung labirin
menyambut sedih
tanggal tigapuluh
terduduk aku di sisi tebing
renjana yang kupilin tak pernah usai
kuanyam menjadi penghangat
saat hujan menderaskan cerita
luka
tanggal tigapuluh satu
karat karat bertanggalan
remahnya kotori ujung gaun
melambai tersapu angin

inikah ujung
penantian akhir dari asa
yang tersemat dari potongan romansa
kisah duka
rindu dendam dan sedu sedan
angkara sesekali hinggap

kau di tebing terjal
dan aku di lembah landai

sendiri menatap harapan
sia sia
14201618321889708006
=====%%%%%%%=====