Rabu, 28 Januari 2015

Rindu Tak Lagi Menjadi Gita

kenapa harus kukejar senja
ia kan selalu pergi
sembunyikan sulur sulur jingga
di ketiak malam

kenapa harus kutangisi malam
ia akan selalu pergi 
sembunyikan gelap di sisi matahari
senyap ditelan surai keemasan

kenapa harus kusesali pagi
ia akan selalu pergi
berkelana menghitung jarak
hingga bertemu senja dan jingga

kenapa harus
entah
karena rindu tak lagi menjadi gita
alunan simphoni kabarkan renjana

hanya hampa
bilik bilik kosong tanpa jiwa
mengelana

=====%%%%%%%=====

Aku Meninggalkanmu [lagi]

biarkan bait bait cerita tentang kita
tersembunyi di kelepak dedaun hijau
basah oleh tangis
lembab oleh gerimis
sisakan dingin membalut raga
usah simpan bara
yang panaskan rasa hati
tinggalkan seleret luka
ada jeda serupai tirai
kau
aku
tak hendak bicara cemburu
usah hirau
kangen yang kau tuliskan tertinggal
di lintasan lintasan dingin
beku ditinggalkan derak derak
pengiring langkahku menjauh
sejatinya tak ada sesiapa
yang kau hujani rindu dan segala asmara
semua tersimpan sendiri
sunyi di kedalaman bilik hati
yang terluka
kutitipkan rindu menggebu
pada kelokan di sudut perempatan
karena waktu tak berpihak
pada rencana yang kita tuliskan
aku meninggalkanmu, lagi
tanpa sempat bertukar sapa
bertanya kabar suka-suka


=====%%%%%%%=====

Rabu, 21 Januari 2015

Januari: Tentang Senyum yang Terlupa

sungguh
senja ini merambat angkuh
bersama percik tampias
mengalir membawa dedaun luruh
jangan tanya kenapa gigil
sembunyikan suam
Januari berteman hujan senantiasa
entah, terlupa kutangkup senyum
yang sempat kau tawarkan
tadi pagi

====%%%%%%%%====

Senin, 12 Januari 2015

Menua Bersama Waktu

pada sebuah malam yang sembunyi di ketiak pagi
kutitipkan hitungan rindu untuk seraut wajah
wajah wajah lelah
wajah wajah pasrah
wajah wajah berbalut harapan

pada sebuah pagi yang gigil
kudekapkan romansa
agar membagi hangat ke sekujur raga
rapuh tergerus usia

menua bersama waktu


====%%%%%%%====

Sepertiga Malam

pada gelap ku kehilangan cahya
pada senyap ku kehilangan suara

pokok pinus membeku
perdu membisu, hilang kata kata
denting jarum jatuh
sekeras derap
para tentara samakan langkah

hanya lantunan
dihantar bisik
lafadz-Mu mengalun
menyusup kisi kisi
hati yang gersang

terlupa menyebut asma-Mu
di sepertiga malam

====%%%%%====

Minggu, 11 Januari 2015

Elegi Penantian

putikputik perdu
bersulam embun
menunggu esok
memanen sulur
senyum mentari

di sudut dangau
kupeluk kerling mesra
rembulan
bercanda di gumpalan
arakarak mendung

kupintal baitbait masa
yang melangkah, lambat
menjengukku

====%%%%%====

Risau

ketika kau menjelma menjadi 'asing'
tak kukenali lagi lafadz yang kau deraskan
entah aku
atau kau
yang tersesat di persimpangan

ujung jalan itu
bercabang, dua kiri kanan

kau teteskan lagi cuka
di serpih luka
yang kembali koyak

tanpa rasa
empati simpati atau jatuh iba
begitu saja

lelehannya menganak sungai

sedang malam
sembunyikan seleret jingga
membenamnya
dalam peluk
kegelapan

seperti kerlip rindu
yang kau genggam
seirama
tarian kunangkunang

=====%%%%%=====

Senyum Rembulan

rembulan malu
bertirai kabut
samar, membayang senyum
berteman lingkar warna serupa cincin

namun bukan wajahmu
tak pula binar sorot teduhmu
hanya seleret cahya
bercerita tentang hati terbelah

rindu telah patah
serpihnya bertanggalan
seirama keluh yang luruh

'aku kehilanganmu' tulismu


=====%%%%%%%=====

Januari dan Selembar Kisah Tentangmu

gerimis sembunyi
di sebalik bayang-bayang
rintiknya jatuh
serupa jarum
tajam menusuk

gelap tak lagi tawarkan rahasia
tempat segala rindu
dendam dan sgala romansa
bersembunyi dari wasangka

januari ini tak beda
karena aku harus menghitung lagi
serpih serpih yang terserak

gurat wajah
dekik pipi
denting lagu di sebalik senyummu

dan rindu yang senantiasa menggantung
lelap di ujung resah

di sini
mentari temaniku menganyam waktu
menghapus jejak jejak basah
membiarkannya
berlari
mengejar senja temaram

esok masih ada
tapak tapak masa
tuk merenda kisah

tentangmu
tentangku
tentang kita
dan segala cerita tentang harapan

=====%%%%%%%=====



Nopember: Serpihan Kenangan

aaahh Nopember
saat payung payung terkembang
warna warni menahan tampias
pernahkah kau sengaja jenguk
wajah wajah yang berlindung
di baliknya

muram
tanpa cahya
ada juga mengulum senyum
lengan terulur memeluk beku

namun langkahmu tetap saja
menjauh
membilang jarak dan jeda
setia mengantarai
jemari kita
tuk saling bertaut

tak ada lagi masa
saling berbagi romansa
hingga entah

tangismu setia temaniku
menghitung rintik yang luruh
membasah di jalanan
tempat kita menebar serpihan
kenangan


=====%%%%%%%=====




[puisitigapuluhsatuhari] Tentang Kehilangan dan Rindu yang Menjelma Kenangan

tanggal satu
kugoreskan selarik tinta
hitam memanjang
awal penanda
jeda akan segera melebar
menuju penghujung tahun
tanggal dua
kita hias dengan untai kata
janji tuk bersua

matahari mengaminkannya, kurasa
ia membagi senyum
berbalut sulur sulur hangat
kilaukan titik embun
yang segra mengelana

tanggal tiga
mestikah kubendel lembar lembar rindu
saat jeda yang tercipta
hendak kau lekatkan
tanpa jurang menganga


tanggal empat
kembali kugoreskan
tinta sbagai penanda
kali ini putih kupilih
agar nampak seperti jeda

setitik harap
bak noktah pelengkap
renjana yang kita gambar
di selembar kanvas lapuk
tanggal lima
lembar lembar memori
makin terbingkai
dalam alunan romansa tanpa kata

seandainya asa ini
mampu membalutnya
agar dingin di ujung malam
tak melukainya

tanggal enam
kueja senyum pagi
berkalungkan mendung
basahi kayu penyangga kanvass usang
tempat kau goreskan cerita cerita

tentang hijau dedaun
bunga bunga me layu
dan rumput meranggas

sudah tanggal tujuh
jeda yang tercipta tak halangiku
selesaikan gambaran tentangmu

tentang seraut wajah
tentang lesung di pipi kiri
tentang dagu terbelah
dan tentang tipis bibir
tenang tetapi menghanyut rasa
tanggal delapan
kutambahkan leret warna
dalam baris putih hitam di dinding
agar tak terlewat
hari hari mengantarai

tanggal sembilan
sepertiga bulan hampir terraih
kita masih berkutat dengan rasa
kehilangan kerinduan dan segala entah

sementara waktu tak henti
jejakkan langkah berlari
dan tinggalkan kita di sini
terduduk menahan perih
di persimpangan
antara rindu dan dendam

tanggal sepuluh
genap pula sepuluh jari
sebanyak itu pula goresan putih hitam
temaniku menata hati

asa bukan satu-satunya
elegi tentang cita
dan juga romansa
diantara dua kelepak hati
yang hampir terkoyak
tanggal sebelas
sengaja kusemaikan jarak
tonggak tonggak terpancang
sepanjang sisi jalanan
yang kita susuri tadi malam

entah bilangan ke berapa
goresan putih hitam itu
tertapak di buram dinding
menggenapi hari hari kosong
warnai kepergianmu

tanggal duabelas
hujan semalam
hapuskan tapak jejak
yang sengaja kau tinggal
tanggal tigabelas
kubertanya: "lalu dengan apakah
kuisi potongan puzzle
yang terlarut
bersama hujan"
tanggal empatbelas
sepagi ini kau deraskan tangis
alangi isak yang coba kutepis
menghabiskannya bersama derai hujan
kaburkan sketsa tentang seraut wajah
di kanvass kanvass terbentang


tanggal limabelas
goresan warna tlah menjelma
menjadi larik larik penanda
hitam
putih
berderet berbaris

tlah jauh kita saling melangkah
kau ke sana
aku ke sini
menanti ujung labirin
menjadi pintu sua
kita
tanggal enambelas
tlah separuh waktu berlari tinggalkan jejak
langkah langkah tertatih
tapak tapak berbalut letih

tanggal tujuhbelas
mentari menua
teriknya kalahkan gundah
kening kening membasah
lukisan rindu tak usai
genapkan romansa
tanggal delapanbelas
penyangga kanvass
gelisah dalam tegak
tak jua kurampungkan gambar wajah
tentangmu
tanggal sembilanbelas
hujan membiru
larutkan warna warna sendu
berleleran di palet buram
menjadikannya bercak bercak
tanpa makna
tanggal duapuluh
kristal kristal rindu
kau sorongkan padaku
dalam bejana berhias senyum

'genap dua pertiga bulan
kau sorongkan padaku
dalam bejana berhias senyum

'genap dua pertiga bulan
kita saling melangkah,' tulismu
prasasti lukisan buram
tak saling bertaut
tanggal duapuluh satu
'sekarang atau nanti
atau mesti menunggu
lagi lagi dan lagi,' keluhmu

waktu tak leluasa memberi
ruang dan hawa sepenuh pinta
hanya bayang, buram tanpa arsir
garis garis yang perlahan pudar
tanggal duapuluh dua
sengaja tak kuberi jeda
gores putih hitam
memanjang sedepa

ujung labirin
tak nampak jua
tak kutahu engkau kemana
arah langkah terhalang kabut

tanggal duapuluh tiga
halimun membentang
percikkan rona rona pelangi
saat matahari membagi hangat

meski tirai langit
sesekali berteman rintik
tak halangi timbunan rindu
yang susah payah kukumpul
untukmu

tanggal duapuluh empat
haruskah kukabarkan pada rindu
bait bait renjanaku
merdu bertunas
nyanyikan serenade
tentang hari baru
tanggal duapuluh lima
simphoni beradu, mendayu
nyanyikan gita seirama orkestra
tabir harapan bawakan kisah
tapak jejakmu semakin nyata

tanggal duapuluh enam
tinggal sedikit hari
kita 'kan mengukir petak petak memori
yang rapat tersimpan

tanggal duapuluh tujuh
kanvass kanvass tlah penuh
bergambarkan kisah
berbaur gores gores memanjang
putih
hitam

tanggal duapuluh delapan
aku tlah lelah melangkah
lorong labirin tak janjikan cahaya

hanya isak
hanya sedu di ujung lidah
dan hanya hanya lain
tak terungkap

tanggal duapuluh sembilan
raga tlah tertatih
menuju letih
membawa badan menghela rintih
gerbang di ujung labirin
menyambut sedih
tanggal tigapuluh
terduduk aku di sisi tebing
renjana yang kupilin tak pernah usai
kuanyam menjadi penghangat
saat hujan menderaskan cerita
luka
tanggal tigapuluh satu
karat karat bertanggalan
remahnya kotori ujung gaun
melambai tersapu angin

inikah ujung
penantian akhir dari asa
yang tersemat dari potongan romansa
kisah duka
rindu dendam dan sedu sedan
angkara sesekali hinggap

kau di tebing terjal
dan aku di lembah landai

sendiri menatap harapan
sia sia
14201618321889708006
=====%%%%%%%=====