satu satu
bongkah demi bongkah
kau susun serupa benteng
melingkar
berkelok
ikuti geliat kaki
melangkah menembus pekat
dinding itu pun terhubung sudah
bongkah demi bongkah
kau susun serupa benteng
melingkar
berkelok
ikuti geliat kaki
melangkah menembus pekat
dinding itu pun terhubung sudah
hujan
rintik dan derasnya
segra genangi cembung
yang kau bangun dengan derai
kadang tangis kadang keringat
rintik dan derasnya
segra genangi cembung
yang kau bangun dengan derai
kadang tangis kadang keringat
sama halnya kidung telaga
membayang di bola matamu
ingin ku tenggelam
berenang-renang di kedalamannya
bertemankan pendar
cahya lilin
membayang di bola matamu
ingin ku tenggelam
berenang-renang di kedalamannya
bertemankan pendar
cahya lilin
dan aku suka cita menghitungnya
=====oOo=====
Tidak ada komentar:
Posting Komentar